Sabtu, 17 Oktober 2009

Funny Story

Ketua OKP itu cuma diam melihat seorang gadis gila yang bertelanjang dada terduduk dalam parit kota. Tapi meskipun mulutnya diam, kerongkongannya bergerak-gerak karena menelan air ludahnya sendiri. Tergoda juga berahinya melihat buah dada perempuan gila itu — Uli namanya, usianya sekitar 20 tahun.

(Cerpen Jarar Siahaan;)

Kerumunan warga makin ramai. Ada kaum ibu yang mengucapkan sumpah serapah sampai ke nenek-moyang. Ada kaum bapak dan yang belum bapak-bapak yang sebagian besar cuma diam sambil menikmati pemandangan indah itu. “Tarik aja oiii …, seret …, jangan bikin kotor kampung kita ini,” teriak Ketua RT dari tengah kerumunan, lalu cengengesan, dan tak lama menghilang entah ke mana.

Dua wanita masuk ke dalam selokan dan menarik paksa Uli. Eh, ternyata bukan cuma tak pakai beha, ia juga tak pakai celana dalam. Bugil total. Melihat itu, si Ketua OKP makin cepat-cepat menelan ludahnya. Pak Saleh, tokoh masyarakat yang bekerja sebagai kontraktor, muncul. Dia membawa sehelai kain sarung dan mengenakannya ke tubuh Uli.

“Saudara-saudara, kita ini orang beragama, jadi kita harus punya rasa kemanusiaan. Meskipun gila, dia ini tetap manusia,” kata Pak Saleh.

Seorang rekannya yang juga sudah berusia lanjut, yang sering mengaku sebagai pengetua adat dalam acara-acara seremonial pemda, berbisik dari belakang: “Tambahkan, apalagi dasar negara kita Pancasila.”

Pak Saleh pun melanjutkan petuahnya. “Betul Saudara-saudara, apalagi kita memiliki Pancasila dengan lima sila, di mana sila pertama adalah kemanusiaan yang adil dan beradab.”

“Bukan, itu sila kedua,” bisik rekannya lagi.

“Maaf, maksud saya sila kedua.”

Lalu warga bersilang pendapat, mau diapakan orang gila itu. Seseorang menyarankan agar Pak Saleh saja yang mengurusinya.

“Yang begini bukan tugas saya, sudah ada aparat yang digaji negara untuk itu,” Pak Saleh mengelak. Dia lalu menelepon petugas Satpol PP agar datang untuk membawa Uli. Sepuluh menit kemudian petugas datang dengan mobil patroli. Uli dinaikkan ke mobil. Warga bubar.

Sejam berselang, Pak Saleh datang ke kantor Satpol PP. Dia hendak membawa Uli ke rumahnya. “Lho, kok jadi Bapak yang repot,” kata petugas, heran.

“Ah, tidak juga. Tuhan kan mengajarkan kita untuk membantu dan mencintai sesama manusia,” jawabnya tanpa niat tulus.

Sebenarnya bukan itu alasan Pak Saleh tiba-tiba rela berbuat saleh. Dia berniat merawat Uli karena ada kabar terbaru bahwa Uli adalah keponakan Bupati yang sudah tiga tahun dinyatakan hilang. Pak Saleh berpikir, ini adalah momen yang tepat untuk mencari muka sama Bupati, setelah pada pilkada tahun lalu calon bupati yang didukungnya kalah. Bupati sendiri diketahuinya sedang berada di Jakarta selama tiga hari ke depan dan sesudahnya langsung ke luar negeri untuk menjalani operasi di rumah sakit selama seminggu.

Setelah memberikan dua lembaran seratus ribu rupiah kepada petugas, Pak Saleh diizinkan membawa Uli. Mereka menunggang Aerio merah yang baru sebulan dibeli Pak Saleh. Seperti biasa, si pemilik mobil duduk di belakang. Uli, yang sudah mengenakan kaos berlogo Satpol PP, duduk di depan, di sebelah sopir.

Meski paras Uli ayu, tubuhnya tetaplah berbau air got, sehingga wangi pengharum mobil tak mempan. “Buka kacanya,” perintah Pak Saleh kepada sopirnya.

Uli senyum-senyum sendiri melihat wajahnya di kaca spion. Ia memonyongkan mulutnya dan menggaruk-garuk kepalanya yang memang gatal, mirip tingkah monyet. Kaca spion diputar-putarnya.

“Jangan,” kata sopir, yang terganggu memantau kendaraan di belakang dengan arah kaca spion yang tidak lagi pas.

“Biarkan saja,” ujar Pak Saleh.

Gadis itu menggaruk pahanya yang lumayan putih. Sang sopir meliriknya berulang-ulang. “Eiiit! Nggak boleh …, nggak boleh …,” setengah bernyanyi, Uli untuk pertama kali mengeluarkan suara sambil membetulkan sarung yang tersingkap.

Ia betul-betul riang dalam kuda besi itu. Ia menikmatinya seperti sebuah istana. Suasana adem dalam sebuah mobil terbaru tentulah amat berbeda dengan jalanan penuh debu atau emper ruko tempat dia biasa tidur.

“Hei, monyet!” panggil Uli, melirik ke belakang. Monyet yang dimaksudkannya adalah pemilik mobil.

Pak Saleh cuma terdiam. Maklum, orang gila, pikirnya. Sebaliknya, dalam benak Uli, pria yang duduk di belakang adalah orang yang tidak begitu penting, sedangkan sopir di sebelahnya adalah orang penting.

“Sahuuur, sahur …, monyeeet, monyet …,” Uli menyanyikannya sambil bertepuk tangan.

Pak Saleh terus membisu, tanpa menyunggingkan senyum sedikitpun, juga tanpa amarah. Sementara sopirnya hampir saja meledakkan tawa yang membuat rongga mulutnya penuh terisi udara.

Uli memencet-mencet radio mobil, dan berhenti saat terdengar suara seorang penyiar mengantarkan lagu dangdut populer Jablai. Uli hafal lagu ini, dan ikut bernyanyi. “Enggak kerasa udah setahun/ si monyet mulai berlagak pikun …/ lai lai lai lai lai lai/ panggil aku si jablai/ monyet jarang pulang/ aku jarang dibelai ….”

Kali ini, si sopir tak bisa lagi menahan tawanya.

“Kamu kenapa ketawa?” tanya tuannya.

“Nggak kok, Pak.”

Tiba di rumah, Pak Saleh memperkenalkan Uli kepada istri dan anak-anaknya. Pak Saleh bercerita kalau gadis tak waras itu adalah keponakan Bupati. Istrinya pun memasang wajah manis, semanis-manisnya. “Duh …, Uli sangat cantik,” pujanya bersandiwara.

Semua orang di rumah itu menyodorkan tangan menjabat Uli, namun tidak satu pun disambut. Uli langsung duduk di sofa. Dalam pikirannya, ini adalah keluarga orang tak penting yang tadi duduk di jok belakang mobil. Sedangkan orang penting adalah si sopir pribadi. Uli melihat pembantu rumah tangga Pak Saleh membawakan air putih untuk diminum sopir yang tengah duduk di teras. Oh, pasti benar, dialah orang penting, dialah bos di sini, pikir Uli.

“Hei, monyet! Aku haus, aku mau minum,” Uli memerintah seorang perempuan muda, putri kesayangan Pak Saleh.

Gadis kelas 1 SMA itu menatap bapaknya. “Apaan sih, Pa?” protesnya, langsung kabur ke kamar. Lalu sang ibu berbaik hati mengambil air dingin dari kulkas.

“Namamu siapa, sayang?” tanya istri Pak Saleh.

“Namaku Uli Artha Paramitha Rusadi Cantik Sekali Anak Mami …,” jawab si sedeng sekenanya.

“Wah, memang kamu cantik, Uli.”

Dan tiba-tiba, air minum sengaja dimuncratkan Uli ke baju wanita itu.

“Nggak apa-apa sayang, tante biasa kok kotor gini kalau lagi kerja di dapur.”

Istri Pak Saleh pun mulai sibuk bekerja menyambut tamu agung yang sinting itu. Padahal biasanya wanita bermuka jelek ini cuma tahu makan, tidur, nonton sinetron, bersolek, dan memerintah. Seisi rumah dibuatnya sibuk. Ia menyuruh pembantu ke pasar membeli daging ayam dan bermacam-macam ikan basah. Ia bahkan meminta anaknya menyetrika beberapa pakaian untuk Uli.

“Jinsku yang baru itu, Ma?” si anak heran.

“Ya sudah, nanti Mama beli penggantinya,” jawabnya, mengajak Uli ke kamar mandi untuk dimandikannya sendiri. Oalah, sungguh bermurah hati si nyonya hari ini.

Pak Saleh sudah beberapa kali menghubungi ponsel Pak Bupati — untuk memberitahukan bahwa keponakannya, Uli, sudah dirawatnya di rumah — tapi tidak tersambung. Terakhir, ia menelepon ajudan Bupati.

“Aduh Pak Saleh, saya lagi di jalan, buru-buru ke kantor Mendagri. Bapak lagi mengikuti rapat para kepala daerah bersama Menteri. Tapi soal Uli itu, memang saya pernah dengar cerita dari Ibu Bupati. Cuma saya kurang paham. Sudah dulu ya Pak Saleh,” jawab ajudan Bupati dari Jakarta.

Dasar mau menjilat, batin ajudan. Ia sangat tidak menyukai Pak Saleh. Tahun lalu, semasa pilkada, Pak Saleh berkomentar di koran: “Saya pendukung setia bupati kita yang sekarang. Kita harus memenangkannya untuk periode kedua. Dan saya bersumpah, kalau calon kita ini kalah, saya siap untuk tidak mengemis proyek kepada bupati baru.” Ajudan juga tak bisa lupa bagaimana pemborong bermental tempe itu selalu berupaya agar bupati terpilih tidak dilantik. Pak Saleh memang getol mendemo KPU dan DPRD. Bersama puluhan massa, ia pernah berunjuk rasa ke kantor jaksa sambil membawa seekor babi dalam keranjang. Ia pun memimpin aksi mencoret-coret rumah dinas Ketua DPRD yang juga pendukung bupati terpilih.

Sudah lebih satu minggu Uli berada di rumah Pak Saleh. Sudah banyak kesenangan yang ia nikmati: dimandikan, disuap bila makan, dipijatin kakinya menjelang tidur. Juga sudah banyak korban dan kerugian akibat aksi miringnya.

Suatu sore, Uli asyik membakar sampah di belakang rumah, lalu mengambil dua gaun cantik dari jemuran. Pakaian itu dibakarnya bersama sampah. “Mati kau monyet. Mati kau,” umpatnya dengan riang. Malamnya, putri bungsu Pak Saleh cuma bisa menangis di pelukan ibunya setelah tahu gaunnya diperlakukan seperti sampah.

Di hari lain, Uli mencelupkan Nokia 9500 milik Pak Saleh ke dalam westafel berisi air sabun. Ia mengeluarkan seluruh ikan mas koki dari akuarium, menggorengnya, lalu menyantapnya dengan kecap manis dan sambal. Benar-benar edan. Tapi keluarga kaya itu hanya bisa mengelus dada, tentu dengan terpaksa.

Menjelang genap dua pekan, Pak Saleh mendapat SMS dari temannya pemborong: “pak bpt sdh pulang 2 hari lalu. bgmn kl kita ke rmh bpt sore ini membawa uli.”

Pak Saleh begitu senang. Ia senang karena segera akan mendapat pujian dan perhatian dari Bupati, dan selanjutnya memuluskan jalannya memperoleh proyek. Ia senang karena keluarganya segera akan terbebas dari segala kerugian materi dan penderitaan batin. Sungguh, inilah hari kemenangan yang ditunggu-tunggu Pak Saleh.

Menanti istrinya yang gendut berdandan, sambil membaca koran ia menemani Uli di teras. Uli sudah dipakaikan jins baru dan sepatu kets Geox buatan Italia yang harganya Rp 1 juta.

Mata Pak Saleh terhenti lama pada sebuah judul berita di koran yang sedang dipegangnya: BUPATI MERASA NAMA BAIKNYA DICEMARKAN. Di bawah judul utama itu tertulis sub-judul: ADA SEKELOMPOK KONTRAKTOR MENYEBUT BUPATI PUNYA FAMILI ORANG GILA.

Usai membaca berita koran kuning itu, ia menelepon ajudan Bupati. Penjelasan ajudan, kemarin ada wartawan mewawancarai Bupati soal kehebohan warga setelah munculnya Uli. Kepada wartawan, Bupati mengakui, dulu ada salah satu keponakannya yang sempat kabur dari rumah. Tapi tiga tahun kemudian diperoleh kabar bahwa gadis itu ternyata nekat berangkat ke luar negeri bersama pacarnya, kuliah di sana sambil bekerja, menikah, dan sudah punya anak.

“Bapak juga marah-marah karena banyak SMS masuk ke HP Bapak. Ada yang nyindir: ‘cakep-cakep jadi bupati, punya keluarga gila juga ….’ Ini semua kan gara-gara Pak Saleh juga,” terang ajudan. Mendengar itu, Pak Saleh hanya bisa terdiam.

Pak Saleh tersandar lesu di kursi goyangnya. Pendekatan yang dia lakukan terhadap Bupati selama satu tahun ini jadi sia-sia. Dia menatap si gila dengan murka.

“Pergi kau! Cepaaattt! Dasar perempuan gila!”

Sumber :
http://www.blogberita.com

0 komentar:

Posting Komentar

 

Detikcom - News

VIVAnews - BOLA

BCA

Yahoo! Indonesia Omg!

VIVAnews - TEKNOLOGI